Showing posts with label fanfic. Show all posts
Showing posts with label fanfic. Show all posts

Saturday, February 19, 2011

i do belong to you: a story

- - -
- i do belong to you -
oO a miscellaneous fan fiction Oo
v =^.^= v (by sabishii no kitsune) v =^.^= v
- - -
disclaimer: the idols belongs to their fans (i'm one of those freaks!!! *excited*) idols: *mules-mules*
pairing: Deryck x Avril, Billie x Ciara, onesided Peyton x Deryck (kenapa nama wanitanya ditulis di depan? karena dia yang onesided)
warning: timeline and setting gak jelas. deskripsi apalagi. pokoknya gaje lah. kalo liat summarynya udah gak suka, segera behenti baca. kasian mata dan waktunya.
- - -
summary: deryck suka sama avril, avril suka sama deryck. kalo av pergi, karena orang lain, ato karena deryck sendiri? sisanya, baca aja kalo masih minat. *pasang kitten eyes*
- - -
Deryck berlari menuju kantor BP di SMA nya meski semua anak setingkatnya sedang menjalani liburan. karena sekolah benar-benar tidak rela untuk membiarkan anak berbakat itu tinggal kelas. pihak sekolah meminta Deryck memilih antara mengisi liburannya di kantor BP guna mengganti kehadirannya yang kurang 12 pertemuan untuk dapat ditoleransi dan tetap naik ke kelas sebelas atau mengulang di kelas sepuluh untuk setahun ke depan. tentu saja Deryck tidak bisa melawan keinginan orang tuanya kali ini. dia juga tidak akan secara sengaja membuat mereka kecewa right under their nose.
tapi hari ini, berbeda dengan sepuluh hari sebelumnya yang telah dia jalani dalam kesepian, ada banyak orang di halaman sekolahnya. hari ini pengumuman siapa saja yang berhak sekolah di SMA ternama itu.
dan Deryck menabrak salah satunya dalam jalan panjang menuju kantor BP.
"umm, sorry. ngga' sengaja. buru-buru." katanya setelah dua pihak yang bersangkutan sudah sama-sama berada dalam keadaan seratus persen sadar.
"ngga' pa-pa." jawab seorang gadis manis yang akan segera menjadi adik kelasnya.
ketika memandangnya, Deryck tau dia merasakan sesuatu. karena ada yang menggetarkan hatinya dengan begitu hebat.
"bukannya hari ini libur?" tanya gadis berambut panjang itu.
"iya. kenapa?"
"ko kamu pake seragam?"
"oo. menggantikan masa yang hilang. duluan, ya." meski tidak ingin mengalihkan pandangannya dari wajah innocent yang ada di hadapannya, Deryck kembali pada kenyataan kalau sudah ada orang yang menunggunya. seorang guru BP yang merasa dirinya dalam masa puber.
- - -
"jadi kamu sudah datang?" sapa guru yang disukai banyak anak laki-laki karena dadanya yang besar dan tubuhnya yang seksi itu.
"iya."
"terlambat lima menit."
"maaf. saya bangun kesiangan. alarm saya habis baterenya. mama lupa kalo hari ini saya masuk, jadi ngga' ada yang bangunin. lagipula ini pertama kalinya dalam sebelas hari."
"ganti hari ini dengan lusa."
"Madam Peyton, perjanjiannya cuma dua belas hari."
"dalam perjanjian kamu tidak akan terlambat."
"tapi, Ma'am.."
"terserah kalau kamu mau menyia-nyiakan satu tahun lagi di kelas sepuluh."
perdebatan itu berakhir dengan kekalahan Deryck. yeah, di mana-mana memang yang berkuasa lah yang selalu menang. no matter what.
- - -
Deryck berjalan pulang dengan gontai. padahal seharusnya besok adalah hari terakhir dia harus mengisi liburannya di sekolah bersama guru BP, yang bukan rahasia lagi, sangat menyukainya. tapi hanya karena alarm nya kehabisan baterai di saat semua orang sudah tertidur, masih ada satu hari lagi yang harus dijalaninya dalam penderitaan.
begitu mencapai gerbang, Deryck melihat gadis berambut panjang yang ditemuinya tadi pagi.
"hai. ko belom pulang? udah dari tadi pagi kan di sini?" sapanya.
"oo, kakak yang tadi. ko baru pulang juga?"
"kan aku uda bilang menggantikan waktu yang hilang. kamu nungguin jemputan?"
"iya. ka Ciara bilang dia uda di jalan."
"Ciara?"
"kakak kenal?"
"Ciara Lavigne?"
"iya."
"temen sekelas. kamu adek nya?"
"kenalin, Avril."
"Deryck."
mereka tak pernah tau kalau jabat tangan yang mereka lakukan saat ini akan membawa mereka dalam situasi yang tidak pernah mereka duga.
"aku duluan aja, ya. salam buat Ciara."
Avril mengangguk dan melihat Deryck berlalu dengan keren nya.
- - -
Avril secara tiba-tiba masuk ke kamar Ciara ketika Ciara sedang meng-upload photo ke FB nya.
"ka Ciara!!" teriaknya.
"kita di rumah. bukan di hutan. kenapa?"
"itu foto temen-temen sekelas kakak?"
"iya."
"ko ngga' ada Deryck?"
"Deryck?"
"tadi aku ketemu dia. katanya dia sekelas ma kakak. tadi salam juga buat kakak."
"salam? bangku kosong itu?"
"maksud kakak?"
"jarang banget ada yang bisa akrab ma dia. kalo aja bangkunya ngga' tepat di depan aku, aku yakin dia bahkan ngga' akan tau nama aku. sering banget bangku itu kosong."
"ko tadi dia di sekolah?"
"katanya si biar dia tetep bisa naik kelas. soalnya kebanyakan bolos nya. dia biasanya cuma di kelas tiap ada ulangan. herannya, ngga' pernah ada nilai dia yang di bawah 95. makanya sekolah ngga' rela kalo dia ngulang."
"dia cakep."
"itu juga yang aku pikir waktu pertama liat dia. tapi apa gunanya cakep kalo ngga' bisa diliatin??"
mereka tertawa bersama.
- - -
hari ketiga belas Deryck dalam hukuman--dia menyebut itu kutukan.
datang ke sekolah pagi-pagi dan membayangkan sekolah masih sepi membuat perasaannya tenang.
"ka Deryck uda dateng??" sapaan seorang wanita membuatnya hampir terlonjak kaget.
"Avril? ngapain di sini?"
"registrasi. masih menggantikan hari yang hilang?"
"hahaha. pasti loe udah tau makna frase itu dari Ciara."
Avril tersenyum, "bakal telat kalo nemenin aku ngobrol dulu? temen ku belom ada yang dateng.."
"salah sendiri dateng kepagian. kenapa juga ngga' minta ditemenin Ciara. dia kan masih libur."
"ka Ciara mo maen ma cowo nya."
"sepagi ini?"
"ayolah. apa yang bisa aku bilang biar ka Deryck mau nemenin aku ngobrol?"
"ngga' ada. gue duluan. males dibelit ular lebih lama."
"aku kan bukan ular.."
Deryck tergelak, dia sadar kalau dia salah menyusun kalimat. "sorry. bukan loe."
dan tanpa meneruskan kalimatnya yang masih ambigu, Deryck meninggalkan Avril sendirian. meski tidak berapa lama kemudian beberapa temannya datang.
- - -
dengan sengaja, Avril menunggu Deryck pulang siang ini. dia adalah tipikal gadis yang selalu mengejar apa yang dia inginkan sampai dapat. dan saat ini, Deryck adalah sesuatu yang dia inginkan.
"baru pulang, ka?"  sapanya begitu Deryck hampir melewatinya.
"ha? oo, Avril. ko belum pulang?"
"nungguin kakak."
"gue? kenapa?"
"pengen pulang bareng kakak."
"gue pulang naek bis ke arah sana." Deryck menunjuk ke arah rumahnya.
"naik bis?"
"iya. kenapa? motor gue ditahan biar gue ngga' berkeliaran ke mana-mana."
"ternyata arahnya ngga' sama."
"kenapa ngga' nanya Ciara dulu?"
Avril terpaksa mengubah ekspresi nya menjadi ekspresi gadis yang terkoyak hatinya. berpikir mungkin itu bisa membuat Deryck mengantarnya pulang.
"Av, maaf ya kali ini gue ngga' bisa nganterin loe pulang. tar de kalo uda masuk sekolah biasa, waktu motor gue uda ngga' ditahan bokap lagi, gue anterin loe pulang. jangan pasang tampang kaya gitu. kaya adek gue waktu ngambek."
Avril tersenyum penuh kemenangan. "kakak punya adek?"
"kelas enem SD. kalo ngambek mukanya kaya loe. minta Ciara jemput aja. kalopun dia pergi ma Billie, gue yakin Billie bawa mobil en bisa jemput loe."
"kakak tau cowo nya ka Ciara juga?"
"temen sebangku gue. gue duluan, ya."
dan Deryck meninggalkan Avril sendiri.
karena merasa penantiannya sia-sia, Avril menelepon Ciara dan memintanya menjemputnya di sekolah. dan seperti yang dikatakan Deryck, Ciara menjemput Avril bersama Billie.
- - -
seperti apa yang selalu muncul di awal tahun ajaran, Avril harus mengalami MOS yang menyesakkan. tampangnya terlihat sangat berantakan mengingat senior yang berambisi balas dendam menginstruksikan juniornya untuk mengikat rambutnya sejumlah tanggal kelahirannya--laki-laki maupun perempuan.
membuat Ciara mengeluh seharian.
"sebenernya siapa si yang bikin aturan kaya gitu? bikin susah aja."
karena kebetulan Billie belum muncul dan yang ada di sekitar Ciara hanya Deryck, dia mau tak mau membalas kata-kata Ciara.
"loe kenapa si Ra? loe ngga' ikut MOS juga."
"tapi gue ikut menderita."
"ko bisa?"
"gue yang harus ngiketin rambutnya Avril tiap pagi. kalo dia ngga' lahir tanggal 31 si ngga' bakal sesewot ini gue.."
Deryck tergelak, "loe ngiketin rambutnya yang panjang banget itu tiga puluh iket?"
"tiga puluh satu."
"kalo gitu bawa aja Billie ke rumah biar dia bantuin loe."
"loe mau Avril dijauhi cowo-cowo gara-gara bentuknya yang berantakan??"
"kan masih ada gue."
"ha?"
"boleh ngga' kalo hari ini gue nganterin dia pulang?"
"loe mau nganterin dia pulang pake motor loe dan membuat semua orang melihat dia dalam keadaan yang buruk rupa begitu?"
"sementara gue sibuk ngurusin Phyton sialan di ruang BP, bokap ngurus mobil baru buat gue."
"ha? mobil baru?? gue ngikut juga ya??" tiba-tiba Billie sudah muncul di belakang Deryck dengan tampang antusias. membuat Ciara melongo. memang mobil Billie ke mana??
"mobil loe ke mana??" pertanyaan itu disampaikan oleh Deryck.
"di parkiran."
"trus kenapa ngikut?"
"nyobain aja. tar abis nganterin Avril ma Ciara, loe nganterin gue ke parkiran. gimana??"
"hh.., terserah loe aja lah.."
dengan ini Deryck menyerah.
- - -
"Av..," Deryck menyapa Avril yang kebingungan di gerbang sekolah.
"ka Deryck?"
"mau gue anter balik?"
"maaf, aku harusnya uda dijemput ma ka Ciara ma ka Billie." Avril so jual mahal padahal dalam hati dia mau banget.
"loe ngga' akan bilang gitu kalo uda tau siapa yang ada dalam mobil baru gue."
"maksud ka Deryck?"
"Billie ma Ciara uda nungguin loe di sana."
"ha?"
karena merasa menjelaskan pada Avril akan memakan waktu yang lama, Deryck langsung membawa Avril ke parkiran. berhenti di hadapan jazz biru yang tidak biasanya nampang di parkiran.
"masuk." katanya setelah membukakan pintu untuk Avril.
Avril menoleh ke kursi belakang dan memang ada Ciara dan Billie di dalam mobil itu.
"ka Billie emang mobilnya ke mana?"
Billie hanya menjawab dengan jari telunjuknya. membuat Avril melongo.
"D, loe uda ada SIM belom?" celetuk Ciara.
"emang loe belom pernah liat?"
Ciara menjawab dengan gelengan.
"gue uda punya SIM sejak sebelom bokap gue punya sopir. karena sebelom sopirnya yang sekarang, gue sopirnya."
- - -
Avril sedang memulai mengerjakan PR nya ketika HP nya bergetar dan memunculkan nama Deryck di layarnya.
"halo ka?"
"panggil D aja."
"kenapa?"
"karena gue ngga' setua itu.."
"da paan?"
"loe besok ada acara jam tiga an?"
"sore?"
"kalo subuh gue ngga' terlalu pengen tau."
"ngga' ada."
"kalo gitu loe tungguin gue di rumah. gue pengen ngajak loe jalan."
"harus?"
"kalo ngga' bisa bilang sekarang ato minimal setengah jam sebelumnya."
"aku.." kalimat Avril terputus karena dia menyadari telepon sudah diputus from the other end.
malam itu Avril sibuk mengepas baju untuk dipakai besok sore. bisa disimpulkan dia samasekali tidak jadi menyentuh PR yang seharusnya sudah jadi keesokan paginya.
alhasil keesokan harinya dia harus mendengarkan ceramah panjang lebar dari guru matematikanya.
- - -
"ka Deryck mo ngomong apa si? ko pake ke sini segala?" tanya Avril setelah mereka sampai di bundaran air mancur di tengah kota.
"loe kemaren ngga' dengerin gue?"
"apa?"
"just call me D."
"okay. D, apa masalah kamu?"
"gue uda nanya Ciara, dia bilang gue ngga' sebegitu buruknya buat loe. gue nanya Billie, katanya loe bukan orang yang terlalu baik buat gue. gue nanya Gwen, katanya gue bakal cocok ma loe.."
"intinya?"
"gue kan uda nyiapin pembukaan.., masa ngga' dibaca. tapi ya uda lah. yang penting emang intinya. loe mau ngga' mengubah status kita jadi pacaran?"
"kamu mau ngga' berhenti jadi bangku kosong?"
"bangku kosong?"
"gitu kata ka Ciara dulu. ka Ciara pernah kaget waktu aku nyampein salam kamu dan bilang kamu adalah bangku kosong yang harus masuk sekolah waktu liburan karena absen yang terlalu banyak."
"loe nyadar ngga' kalo gue yang selalu nganterin loe pulang meski itu berarti gue harus merelakan nganterin Billie juga karena dia merasa numpang di mobil gue lebih efisien?"
"iya. aku tau. tapi ada di waktu jam pulang bukan berarti ada waktu jam pelajaran."
"loe bisa tanya Ciara. tapi sebaiknya cepet. karena kalo loe ngga' jawab sekarang, gue anggep itu sebagai loe ngga' mau lagi kenal ma gue."
"aku cuma tanya apa kamu mau berhenti jadi bangku kosong."
"as you wish."
"kalo gitu aku mau."
- - -
sudah hampir lima bulan Deryck menjadi pacar Avril. dan itu juga menjadi jawaban kenapa bangku yang dulu hampir selalu kosong sekarang memiliki penghuni. menjadi jawaban juga kenapa nilai Ciara, Billie dan Gwen membaik. sekarang ada orang yang bisa mereka tanyai di saat guru berbicara terlalu berbelit-belit.
tapi itu samasekali bukan hal yang menyenangkan bagi satu orang yang lain. satu orang yang sudah menjadi rahasia umum kalau orang itu mengincar Deryck. entah karena benci atau karena ingin sering bertemu. miss Peyton. penghuni ruang BP.
terbukti hari ini ketika Deryck sedang mengunjungi Avril di kelasnya pada jam istirahat, Gwen yang baru dari kantor BP mampir.
"D, loe dicariin Phyton." Gwen menyampaikan pesan.
"loe dari sana?"
"Phyton tau kalo kemaren gue bolos."
"trus kenapa gue ikutan dicariin. kemaren kan gue ngga' bolos."
"kangen kali ma loe. kan uda lama loe ngga' ngunjungin dia." Gwen lalu pergi.
"loe nakal lagi?" Avril dipaksa menggunakan gue-loe sejak sebulan mereka jadian.
"hello. gue bukan anak nakal. jadi ngga' ada alesan ada kata 'lagi' dalam pertanyaan loe."
"trus kenapa loe dipanggil?"
"how do i know? i'm stuck here with you and you wish i know what happens to that stupid phyton?"
"ngga' akan ada asap kalo ngga' ada api."
"trus? loe ngga' percaya ma gue?"
"you leave me no choice."
"okay. you don't have to believe me."
Deryck meninggalkan Avril yang menganga. Deryck tidak pernah bicara begitu ketus padanya.
- - -
"jadi, ada apa?" tanya Deryck begitu dia sampai di ruang BP.
miss Peyton langsung duduk di mejanya tepat di mata Deryck. memamerkan pahanya yang putih dan halus. "ada apa?"
"iya. Gwen bilang saya dipanggil ke sini. ada apa, Ma'am?"
"saya cuma ingin tau metode baru apa yang kamu pakai untuk menyembunyikan catatan kejahatan kamu."
"i'm not hiding anything."
"lalu kenapa catatan kamu bisa tiba-tiba menjadi bersih?"
"anggap saja ada yang meminta saya membersihkannya. dan saya terlalu tidak berdaya untuk menolaknya. just that easy."
"maksud kamu?"
"pacar saya ngga' suka kalo saya sering-sering ke sini."
"pacar? jadi kamu punya pacar?"
"iya. is that wrong?"
"you surely know."
Deryck sadar kalau dia baru saja melakukan kesalahan.
"kamu boleh pergi."
Deryck pergi dengan perasaan yang tidak karuan. miss Peyton sudah pernah mengingatkannya kalau dia tidak akan membiarkan Deryck punya pacar selama mereka masih berdiri di bawah atap yang sama(?). sekarang dia benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
bahkan dia menjadi terlalu takut untuk menemui orang yang paling ingin dia lindungi. hampir seminggu Deryck tidak menghubungi Avril dengan cara apapun. tidak juga bisa dihubungi.
- - -
karena itu hari ini Avril memberanikan diri datang ke kelas Deryck pada jam istirahat.
"Av, loe ngapain di sini?" Gwen yang melihat Avril berdiri di ambang pintu langsung menegurnya.
"ka Deryck ada?"
"that bizzy D? tadi keluar ma Billie."
"ke mana?"
"emang dia ngga' bilang ma loe? dia si ngga' pamitan ma gue. gue cuma liat aja mereka pergi."
"oo. ka Ciara ada?"
"Ciara di kantin."
"ya uda. duluan, ya."
setelah menerima anggukan Gwen, Avril berlalu ke kantin. mencari Ciara.
kebetulan Ciara sudah selesai makan dan dalam perjalanan menuju kelasnya. bertemu dengan Avril di koridor kelas.
"ka Ciara?"
"apa?"
"ka Deryck ke mana?"
"tadi keluar ma Billie."
"ke mana?"
"ngga' tau. waktu gue nanya dibilang urusan cowo."
"Deryck is missing."
"missing apanya? kalo dia missing yang tiap hari duduk di depan gue siapa donk?"
"jadi dia selalu masuk dan selalu ada?"
"iya. loe yang minta, kan? berefek baik buat gue, Billie me Gwen."
"tapi dia ngga' menghubungi aku dan juga ngga' bisa dihubungi. ngga' baik buat aku."
"you just have to trust him. dia tu orang terpercaya yang gue kenal. bahkan lebih terpercaya dari Billie."
- - -
ketika keesokan harinya Avril ke kelas 2b, Deryck sedang tidur di kursinya. tanpa ada Ciara, Bllie dan Gwen yang ada di sekitarnya.
"D..," Deryck tidak terbangun.
Avril menyentuh pundaknya, "D..,"
Deryck membuka matanya, "Av, ngapain loe di sini?"
"kenapa HP loe ngga' aktif terus?"
"ada yang neror gue."
"kenapa ngga' bilang?"
"takut kalo dia neror loe juga."
"siapa? miss Peyton? orang yang manggil loe karena loe dengan berani minta dia jadi pacar loe?"
"ha?"
"semua orang uda tau. loe uda suka ma dia sejak pertama loe masuk sini."
"w., wait. semua orang?"
"iya. heran kenapa gue tau? harusnya gue ngga' dengan bodohnya percaya kalo loe sayang ma gue."
"i haven't even said that."
Avril terdiam. dia sadar apa yang dikatakan Deryck adalah hal yang benar. karena tak sekalipun Deryck pernah berkata kalau dia menyayangi Avril.
"i just believe that you can change my life. but that's not gonna happen if you don't even believe me."
"gue heran kenapa ka Ciara bisa bilang loe adalah orang yang paling terpercaya yang pernah dia kenal."
"gue ngga' pernah mengingkari apa yang gue bilang. gue yakin itu cukup buat bikin orang percaya ma gue. dan soal gue ma Phyton, kenapa loe harus percaya semua orang? padahal gue harap loe adalah orang yang bakal percaya ma gue di saat semua orang ngga' percaya ma gue. tapi bahkan Ciara lebih percaya ma gue daripada loe. jadi durasi kenal emang sangat berpengaruh. balik sana loe ke kelas."
"loe ngusir gue?"
Deryck hanya menaikkan alisnya. lalu tertelungkup lagi melanjutkan tidurnya. Avril pun meninggalkan ruangan kelas itu.
- - -
sudah dua hari Avril menolak untuk makan. ucapan Deryck benar-benar menghancurkan hatinya. sampai akhirnya ibunya mengambil tindakan. meminta Ciara ngomong ma orang yang menghancurkan hati adiknya.
"D, you put me into a trouble. dan jangan tidur sebelum gue selesai ngomong." Ciara tau Deryck ngga' akan mengingkari janjinya pada Avril untuk berhenti menjadi bangku kosong. tapi belakangan bangku itu justru sangat jarang ditinggalkan penghuninya.
"masalah apa?"
"uda dua hari Avril ngga' makan."
"ada kaitannya ma gue?"
"gue merestui hubungan loe ma Avril karena loe bilang loe ngga' bakal bikin dia sakit. kalo ini ngga' berakhir, dia bisa jadi bener-bener sakit."
"kenapa loe ngga' berusaha menyembuhkan?"
"gue?"
"loe tau siapa gue. loe tau siapa Phyton. tapi loe ngga' bilang itu ke Av. dia bilang semua orang tau kalo dia manggil gue karena gue dengan berani minta Phyton jadi cewe gue. does it make sense? buat loe yang kenal gue. gue ngga' mau menyiksa diri dengan meyakinkan orang yang ngga' percaya ma gue."
"masalahnya bukan karena dia ngga' percaya. you don't even make a statement."
"i don't?"
"loe bahkan ngga' pernah bilang loe sayang ma dia dan loe berharap dia percaya?"
"loe percaya meskipun gue ngga' pernah bilang gue sayang ma loe."
"karena gue tau loe ngga' akan mengingkari apa yang pernah loe bilang. dan loe pernah bilang loe ngga' akan pernah ada apa-apa ma Phyton.."
"kenapa loe ngga' bilang itu ma adek loe?"
"dia cuma butuh pernyataan dari loe."
"kalo gitu bilang ma dia kalo dia ngga' akan dapet itu jadi lebih baik dia ngga' menyia-nyiakan hidupnya dengan nungguin gue melakukan itu."
Avril berada di dekat mereka cukup lama untuk mendengar pernyataan Deryck yang terakhir.
"Av.." Ciara kaget tapi Deryck tidak mengubah ekspresinya seolah hal itu sangat wajar untuk didengar Avril.
Dia bahkan tidak mengejar Avril yang keluar dengan berurai air mata.
- - -
Deryck dan Avril berhenti bertatap muka sejak dua bulan yang lalu. meski sekarang Avril sudah bisa kembali makan dengan lahap, pikirannya tidak pernah kosong dari orang yang bahkan belum pernah mengucap sayang padanya itu.
ketika nama Deryck muncul di layar HP Avril, cewe itu juga sedang memikirkannya di kantin.
"Av..," sapaan halus itu masih sama meski sudah dua bulan tak terdengar.
"ya?"
"loe masih marah ma gue?"
"marah? aku ngga' marah."
"bagus de. dua bulan gue ngga' berani liat muka loe gara-gara gue takut loe marah."
"kalo kamu takut aku marah, kenapa kamu ngga' jelasin apapun?"
"loe di mana? gue bakal bilang semuanya. gue heran kenapa apa yang ngga' dikatakan selalu saja dianggap sebagai kebohongan.."
"aku di kantin."
"gue ke sana. dan jangan sampe gue denger aku-kamu dari mulut loe begitu gue sampe di sana."
telepon diputus. Avril bingung. kata-kata Deryck barusan, 'gue heran kenapa apa yang ngga' dikatakan selalu saja dianggap sebagai kebohongan..' mengiang terus di telinganya. apa selama ini dia yang salah sangka dan membiarkan kata orang yang masuk dalam kepalanya? apa semua yang dikatakan orang-orang itu adalah hanya kebohongan? toh selama dua bulan ini tidak terjadi apapun menyangkut kasus itu. terlalu sepi untuk kasus yang serius itu.
"gue udah dateng."
Avril menengadah dan menyadari kalau Deryck sudah berada di depan matanya.
"Ciara bilang loe udah jarang ngomongin gue. gue pikir itu berarti emosi loe udah ngga' separah dua bulan yang lalu. sekarang gue cuma mau loe dengerin gue."
"ngga' usah D."
"kenapa?"
"mungkin aja kan semua orang salah menilai loe.."
Deryck menatap Avril penuh tanya.
"i trust you."
"kalo gitu biarin gue ngomong biar loe tau mana yang harus loe percaya."
Avril menunggu apa yang akan Deryck katakan.
"umm, terus terang gue sendiri bener-bener ngga' suka harus bilang ini. atau.., loe kan percaya ma gue., gimana kalo gue ngga' usah ngomong aja?"
"ha? loe gimana si? tadi katanya mo ngomong.."
"mereka bisa bicara lebih banyak dari gue."
Deryck menyodorkan beberapa amplop merah jambu. terang saja Avril berpikir itu adalah surat cinta untuknya yang selama ini Deryck siapkan untuk hari ini. tapi begitu membuka satu amplop pertamanya, dia tau kalau Deryck samasekali tidak berniat menyatakan itu. karena nama yang berada di tempat yang seharusnya berisi nama pengirim diisi oleh nama Peyton Azalea, guru BP yang mengaku diminta menjadi pacar Deryck.
"D, ini apa??"
"gue ngga' minta loe berhenti percaya ma semua orang. tapi gue yakin apa yang loe liat langsung adalah apa yang akan loe percayai."
setumpuk surat cinta untuk Deryck yang semuanya berasal dari Peyton Azalea. dan karena orang itu pernah beberapa kali menulis di kelas Avril, dia tau benar kalau ini tulisannya. lagipula tulisan ini tidak mungkin berasal dari tangan Deryck. terlalu wanita dewasa.
dan semuanya bernada patah hati karena cinta yang tidak terbalas. Avril sadar kalau selama ini dia mempercayai hal yang salah.
"maaf gue ngga' bilang. hari itu Phyton cuma nanya kenapa gue jadi jarang ke kantor dia. gue emang udah ngga' punya alesan lagi buat ke sana. you changed my life. dan tanpa sengaja gue bilang kalo gue punya loe. gue takut bakal ada yang terjadi ma loe kalo dia tau siapa yang bikin gue berubah. dan gue mengambil keputusan yang salah dengan ngga' bikin statement apapun buat loe percayai. you know what, gue udah bosen banget dengerin Ciara ceramah tiap hari. setelah ini loe bakal suruh dia berhenti kan?"
"loe jadi cerewet."
"bukan. cuma ngomong banyak."
Avril tersenyum, "sebenernya bukan ini statement yang gue tunggu. dan bukan Peyton yang bikin gue menjauh dari loe. tapi..,"
"i do belong to you."
"ha?"
"even when i don't love you, even when i stop loving you, even when you're the one i hate the most in this world, this beating heart will always belong to you. and so do i. so you don't need me to say that i love you. 'cause love will never be enough.."
ya. Avril tau, setelah ini dia tidak akan lagi sakit kalaupun Deryck bilang dia adalah makhluk paling annoying, karena jantung yang saat ini dia kendalikan dentumannya, akan terus berdetak untuknya.
.
.
.
-- fin --
.
.
.
story only: 3623 words
pada tau kan kalo alesan Av pergi adalah karena D gak pernah bilang kalo dia sayang ma Av? maaf she gak nulis terang-terangan. (love's not enough when you say it. don't you know you gotta mean it! >>itu lagunya faber drive - sleepless night. check it out!)
oke, gaje. semua nama yang dipake adalah nama penyanyi keren yang menghibur she kalo she down (mungkin kecuali Ciara ma Gwen yang namanya she pake karena she suka aja namanya--gak banyak penyanyi cewek yang she suka. tapi she punya folder nama mereka kok di lepii). Peyton Azalea muncul entah dari mana ke pikiran she karena she gak akan sanggup bikin orang keren jadi annoying gitu.
gaya bahasa yang anak SMA banget? fic ini dibuat..., kapan ya? *ngintip properties* setaun yang lalu. februari 2010. she masih ngerasa sebagai anak SMA pada waktu itu. (bukan berarti sekarang she udah menerima kenyataan kalo she anak kuliahan si...)
alur yang terlalu cepet? iya, she juga tau. she takut ngubah ceritanya bikin keseluruhan ceritanya berubah jadi, karena dulu she gak peduli timeline (bukan berarti sekarang peduli si...) jadi ya beginilah hasilnya.
minim deskripsi? kebanyakan dialog gak penting? haah, apa lagi ya? she sampe bingung saking banyaknya kekurangannya. kalo nemu yang laen, comment ya? biar she bisa makin memperbaiki diri.
buat yang gak tau nama-nama yang dipake sehingga gak menganggap ini sebagai fanfic, she bilangin,
Deryck Whibley - vocalist of Sum 41 (Canadian rock band)
Avril Lavigne - Canadian singer (also Deryck's ex-wife)
Ciara - singer (she asal comot nama)
Billie Joe Armstrong - vocalist of Green Day (American rock band)
Gwen Stefani - singer (juga asal comot nama)
at last, makasih udah baca sampe sini. dan kalo berkenan, komen anda adalah semangat untuk she. just let me know what you think about this fic.
- - -

Saturday, January 15, 2011

don't like dont read

disclaimer: i do not own the chara and do not make money of this fic.
warning: it's sho-ai alias boys love. gak suka gak usah baca. gak peduli udah sampe sini. kalo takut bakal tersinggung, segera tekan tombol back di pojok kiri atas ato langsung minggat aja dari halaman ini. jadi, i'v told you!!
a/n:
jadi ini adalah lanjutan daripada fic she yang kemaren..
sebenernya she udah pengen banget buat bikin fanfic beneran yang menggunakan tokoh idola beneran. she pengen bizzy d jadian lagi ma av meskipun cuma dalam fic. she pengen bikin tomo (of 30stm) jadi cakep lagi. she pengen asistennya jared rambutnya berubah jadi biru. she pengen bikin fic bertemakan no smoking yang mengkambinghitamkan doojoon n yoseob (of b2st). tapi apa daya... ujian menghadang. dan ini persembahan menjelang ujian. selamat menjalankan ujian bagi diri saya sendiri. semoga she nggak gila setelah proses itu berakhir. maaf kalo ada yang salah-salah ketik. males ngedit.
- - - - -

“Itsnan,” Wawan menggenggam tangan ketua kelasnya itu tepat sebelum dia keluar dari kontrakan menuju kampus.
“Hari ini lo kan sama Arif. Ada apa?”
“Gue suka lo.”
“Ha???”
Mengiringi kecengokan ketua kelas di pintu, seorang lagi penghuni kontrakan itu memandang dua penghuni lainnya. Dengan matanya yang terluka. (Bayangin aja orang yang lo suka nembak orang laen di depan mata.)
“Nek seneng emang kudune ngomong wae…,” hanya itu yang dia ucapkan. Lebih kepada dirinya sendiri yang merasa sedang menjilat ludahnya sendiri. (Ludahnya udah keluar dari mulut, udah nggak mungkin ditarik lagi.)
Karena author bingung mau dikemanakan sosok Arif yang frustrasi terhadap dirinya sendiri itu, akhirnya Arif hanya melewati mereka berdua dengan innocent nya. Mengambil motor dan langsung memacunya ke kampus FMIPA tercinta. (?) Tanpa sedikitpun memandang kedua teman satu kontrakannya. Dia takut. (Arif: Sialan! Gue nggak takut! Harusnya gue hajar aja tuh Itsnan! Gue bukan pengecut! Author: *innocent*)
.
.
.
Title: Winning Super Ego pt 1
.
.
.
Wawan masih menggenggam tangan ketua kelasnya yang dengan suksesnya dibuat cengok olehnya. Itsnan juga masih mangap dengan hebohnya. Bukan dink, megap-megap karena bingung mau bilang apa. Jelas saja pernyataan aneh dari wawan bukan hal yang dia harapkan sebagai awal harinya.
“Nan..?” sapaan lembut (?) Wawan menyadarkan Itsnan dari kebengongannya.
“Apa yang barusan itu?” Itsnan berhasil juga mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
“Maukah lo jadi seme gue?”
“Apa?? Lo gila! Gue normal tau!” Itsnan yang sudah sadar langsung meninggalkan Wawan yang masih diam saja di situ. Berlalu ke kampus FMIPA tercinta. (Lagi.)
Wawan terdiam menyambut kesialannya. Bukan. Bukan naik motor sendiri ke kampus FMIPA tercinta yang bikin dia sakit kaya gini. Kalo cuma ke kampus sendirian dia bisa. Selalu bisa. Tapi ngeliatin Itsnan setelah ini yang dia nggak tau dia bakal sanggup ato nggak. Dia duduk di sofa ruang tamu yang ada di sampingnya. Berpikir tentang akan datangkah dia ke kampus FMIPA tercinta hari ini. Rasanya sakit kalo tau dia harus liat lagi gimana ekspresi Itsnan. Apapun ekspresi itu.
Damn, it hurts. Dia tidak menyangka dadanya akan begitu sesak hanya demi menerima penolakan dari Itsnan. Bukankah dia sudah mempersiapkan diri untuk ini? Gue udah siap. Sekali lagi Wawan mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
- - - - -
Di kampus FMIPA tercinta,
Arif tidak bisa konsen samasekali mendengarkan penjelasan dosen Psikologi Pendidikannya. (Oke, kita anggep kuliah itu dilaksanakan jam tujuh pagi.) Selain karena dosen itu nyebahi n njelehi, (Ini si kata author!) Arif tidak bisa menemukan sosok Wawan maupun Itsnan di kelas itu. Kemana mereka? Bukannya meskipun jadian mereka harusnya tetep dateng kuliah? Ato… Arif cepat-cepat menyingkirkan pikiran mesumnya dengan mengacak-acak rambutnya. Membuatnya berkesan seperti sarang ayam baru.
“Jadi Mas, teori siapa itu tadi?” ucapan dosen yang jelas tertuju padanya itu membuat Arif cengok. Memangnya sedari tadi apa yang dibicarakan dosen kasar itu? Arif tidak mampu mmenanggapi apapun karena memang dia tidak tau samasekali apa yang sedang dibahas. Bukan berarti kalau dia tau apa yang dibahas dia bakal bisa jawab, sih. (*ditendang Arif*)
“Piaget. Jadi Piaget lah yang mengungkapkan pembagian tahap berpikir idividu menjadi empat bagian. Yaitu …” (Author males buka buku dan takut kalo nulis info salah.)
Arif sudah kembali pada pikiran anehnya ketika dosen FIP kita tercinta (?) itu kembali membahas tentang Piaget yang sudah terkenal di kancah psikologi itu.
Di ujung kelas yang lain—tanpa disadari oleh Arif—seseorang juga sedang mempertanyakan keberadaan Itsnan.
- - - - -
Kita liat Itsnan sedang di mana, (Gak mungkin di kontrakan karena tadi kan author udah nulis dia pergi ke kampus FMIPA tercinta.)
Jadi di manakah sebenarnya keberadaan sang ketua kelas kesayangan (?) kita? Silakan pikir sendiri. Nggak dink, gak bakal selesai kalo nungguin kalian mikir. (*ditimpuk readers*)
Di depan gelanggang ormawa. Tepatnya di depan markas besar himaki. Sendirian duduk menelungkupkan wajahnya di antara tangannya. Dia tau memendam ini lebih lama akan membuatnya meledak dan gila. Tapi memangnya pada siapa dia bisa bercerita? Siapa yang bisa memaklumi kalau dia baru saja dilamar (Sebenernya cuma ditembak sih!) seorang sahabat baiknya. Tepatnya sahabat cowoknya. Orang-orang mungkin tidak akan melihatnya dengan aneh. Tapi bagaimana dengan Wawan? Entah kenapa pikiran bahwa Wawan akan menjadi buruk di mata semua orang membuatnya merasa takut. Tapi dia pikir, ini karena gue temennya, setiap temen juga pasti kaya gini. Tapi nggak setiap temen juga ‘ditembak’ sama temen cowoknya, kan??
Itsnan menenggelamkan wajahnya semakin dalam ketika merasa ada tangan yang membelai kepalanya. Begitu lembut dan hangat. Terasa sangat aman seolah dia sudah melupakan semua kegalauan yang melandanya beberapa menit yang lalu. Seolah dia tidak ingin belaian itu terhenti untuk selamanya sehingga dia bisa tetap dalam keadaan damai seperti ini. Tidak, dia tidak ingin mendongak untuk memastikan siapa yang sedang menenangkannya. Dia takut. Takut kalau ketenangan itu akan berakhir begitu dia tau siapa yang sedang membuatnya berada di surga. (Bakal beda arti kalo lagi baca fic rate M ni..)
“Nan…?” tangan itu berbicara memanggil namanya. (Ya nggak lah!) Memaksa Itsnan untuk mendongakkan kepalanya. Pipi chubby Arum menyapanya cerah. (Pipi juga nggak bisa nyapa orang!)
“Arum?” Itsnan mengucek matanya berpura-pura bangun tidur. Tidak ingin mengubah ekspresi cerah yang menenangkan hatinya itu.
“Tadi kenapa gak ikut kuliah? Dicariin anak-anak tau!” suara melengking Arum menyadarkan Itsnan lagi. Seharusnya hari ini dia mengadakan rapat untuk kunjungan ilmiah yang akan dilakukan oleh kelasnya. Dan dia samasekali lupa tentang itu sampai Arum mengatakan kalau dirinya dicari. Maklum saja, ketua kelas kita yang rajin kan jarang banget nggak masuk kelas. Lagian nggak sering juga kan dia ngalamin yang barusan dia alamin?
“Tadi aku ketiduran pas baru nyampe sini…” balasnya dengan innocent pura-pura lupa samasekali.
“Hari ini kan rapat buat kunjungan ilmiah. Anak-anak jadi pulang kan gara-gara kamu nggak ada.”
“Oke, ntar ada kuliah Manajemen Lab, kan? Kita rapat abis kuliah itu.”
“Siip. Jangan lupa bilangin anak-anak. Biar gak ada yang bolos. Aku meh ke tempatnya Arini ngerjain tugas Sosio.” (Tenang, tugas ini fiktif… Readers: Bukannya seluruh fic ini emang fiktif? Author: *baru nyadar* *ngangguk-ngangguk innocent*)
Itsnan melepas kepergian Arum dengan tatapan datar. Tidak ingin merusak suasana hatinya sendiri.
Ketika dilihatnya sekumpulan mahluk cowok dari kelasnya sedang berjalan ke arah food court, Itsnan hanya menatap mereka nanar. Mencoba mencari sesosok manusia yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Tapi dia tidak bisa menemukan Wawan. Apa anak itu juga bolos seperti dirinya? Apa anak itu juga sangat terganggu seperti dirinya? Apakah anak itu serius dengan apa yang dikatakannya tadi pagi? Dia sangat berharap hanya pikirannya saja yang menyatakan kalau anak itu sedang sangat terpuruk. (Wawan: Kenyataannya emang gitu! Heh, author, kenapa gue nggak muncul-muncul lagi? Udah gatel pengen curhat, tau!! Author: Terserah gue, dong! Kan gue yang bikin fic ini! XP *diacungin parang*)
Itsnan yang bingung dengan haruskah dirinya bergabung dengan teman-temannya itu akhirnya kembali menelungkupkan kepalanya dan benar-benar pergi ke alam mimpi. Tak mempedulikan sekitarnya yang sedang ramai dengan mahasiswa-mahasiswa FMIPA yang sedang ribut di bazaar buku yang diadakan di pelataran gelanggang ormawa FMIPA.
- - - - -
Oke, kita balik lagi ke Arif.
Arif yang bingung dengan keberadaan dua sahabatnya merasa tidak akan mampu lagi menerima pelajaran. Yeah, sekarang emang lagi kosong kuliah si setelah kuliah Psikologi Pendidikan yang tidak perlu kita sebut siapa nama dosennya. Tapi dia benar-benar tidak bisa membersihkan kepalanya dari pikiran kotornya. Apa iya mereka sedang melakukan ‘itu’? Pikiran over mesum Arif melayang kembali pada kejadian malam itu.

- flashback -
Arif kelaparan. Ya, dia tau makan tengah malam bisa membuat perut buncit. Tapi bukan itu yang dipikirkannya. Lagipula kalau perut sudah melolong, apa daya? Dia ingat masih ada persediaan apel di kulkas kontrakannya. Dia memang sangat menyukai apel. (Arif: Lo emang keterlaluan nge-fans sama Kyuubi!) (Note: Kyuubi itu rubah ekor sembilan di anime Naruto yang sejak author baca sebuah fanfic di suatu website jadi nge-fans banget ma tu mahluk yang versi manusia. Dan tu Kyuubi suka banget makan apel. Jadi… *ditimpuk karena kebanyakan bacot* *masih bayangin Kyuu-chan* Kyuubi: Nggak usah pake –chan!!! *author di-rasengan*) Akhirnya Arif memutuskan untuk mengambil apel itu. Pasti akan bisa mengganjal perutnya. Selain itu, karena apel adalah sejenis buah, pasti tidak akan membuat perut buncit. Lagian antioksidannya kan tinggi. Bisa mencegah munculnya keriput di wajah. (Ini bikin fanfic apa bulletin, si?)
Intinya, Arif keluar dari kamarnya dengan tujuan sang apel di dalam kulkas. (Kulkasnya ditaruh di dapur untuk memudahkan akses dari semua penduduk.) Ketika melewati kamar Wawan…,
“Ngh… Goblok! Jangan hh… keras nghhh… keras! Sa mhh… kit mmh… tau!” Arif tau benar itu suara Wawan.
“Jangan gerak-gerak! Jadi susah nih!” dan itu adalah suara Itsnan.
“Ngh… hhhh.. AAAAHHH~!”

*author gak berani nulis lagi* *nosebleed*
Arif: Heh! Ceritanya gak bakal nulis sendiri, tau!
Author: *ngelap idung* Abisnya… mereka…! *nunjuk kamar Wawan*
Arif: Itu kan urusan mereka! Urusan lo ngerampungin fic ini! *ngacungin golok*
Author: *merinding* I-i-iya de… *langsung nunduk di depan JeJe* (Note: JeJe itu nama lepii nya author)

Jadi begitulah. Arif terbengong-bengong bagaikan kambing congek di depan pintu kamar Wawan. (Arif: Gue nggak kaya kambing congek! Cuma kaya kambing hampir disembelih aja. Author+Reader: *sweatdrop*) Not even dare to knock. Di benar-benar shocked. Selama ini dia mengira kedekatan Wawan dan Itsnan hanya sekedar sahabat saja. Tidak lebih. Tapi erangan ini… apa? Kenapa? Dia baru saja bisa menerima kenyataan bahwa dia punya perasaan yang lain pada Wawan dan sekarang dia harus mendengarkan ini? Kami-sama, apa salahku? (Note: Kami-sama itu sebutan tuhan dalam bahasa Jepang.)
Tapi karena sebelum ini dia memang sudah sangat menyiapkan diri untuk ditolak oleh teman sekelasnya itu, sekarang dia mencoba untuk menenangkan diri. Nggak pa-pa. Gue udah siap. Gue udah sangat siap. Dari awal emang nggak pernah ada apapun. Jadi nggak salah kan kalo sekarang emang nggak ada apapun? Arif mencoba untuk menguatkan batinnya sendiri.
Dengan berat hati Arif meninggalkan pintu kamar itu. Nafsu makannya hilang seketika. Dia hanya berjalan gontai kembali menuju kamarnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut dan mencoba untuk tidur. Meski tak sedetikpun dari malam itu yang akhirnya dilaluinya di alam bawah sadar. Intinya, dia samasekali tidak bisa tidur.
Dan ketika keesokan harinya Arif melihat ada noda kemerahan di lekuk leher Wawan, rasa sakitnya benar-benar parah. Rasanya seperti ketika kau ingin mati tapi tidak ada satupun dewa kematian yang mau mengambil nyawamu. (Tu, mereka lagi sibuk syuting Bleach! *nunjuk-nunjuk tv*)
- end of flashback -

Tapi mungkin saja itu salah. Mungkin saja mereka sedang melakukan hal lain, kan? Arif mau tidak mau sangat berharap mereka memang tidak melakukan ‘itu’.
Setelah membiarkan angel dan devil dalam dirinya bertengkar hebat, devil berhasil merayu Arif untuk pulang saja. Meskipun dia nggak yakin dia akan tahan juga tinggal di kontrakan dengan dua sahabatnya yang dia nggak tau sekarang gimana hubungan mereka, setidaknya di kontrakan ada selimut yang selalu menjadi pelariannya setiap kali dia stuck dengan hidupnya.
- - - - -
Huffh, author sangat lelah dengan narasi-deskriptif!! Jadi, sekarang author akan membawa readers semua (Kaya banyak aja yang baca fict ini!) pergi ke kontrakan Arini yang di… (Sebut gak ya? Gak usah aja de. Dia kan cuma minta buat nampang, bukan buat dipromosiin. Arini: Lagian promosi apa, coba? *bingung*)
Setelah panitia pengerjaan tugas Sosio kelompok Arum dan Arini pulang dan teman kontrakan Arini yang masih kuliah, (Sebenernya author bingung aja mereka mau ngapain kalo masih di situ…) yep, mereka tinggal berdua. Kaget nggak? Harusnya si nggak.
“Arum, aku pengen nanya tapi kamu jangan marah, ya?” ucap Arini takut-takut tapi tetep pasang muka innocent.
“Apa?” Arum menoleh dan menatap mata Arini penuh tanya.
“Kemaren itu…, aku nggak sengaja liat Arum ciuman ma Pak Itsnan. Kalian jadian beneran?”
Arum tercengok-cengok sendiri dengan pertanyaan Arini. Dia tidak menyangka akan ada yang melihat adegan itu. Sebuah ciuman perpisahan yang menyakitkan.
“Rum…, marah, ya?” Arini khawatir karena Arum tak kunjung menjawab pertanyaannya. Apa dia terlalu langsung menanyakan itu? Tapi kan author lagi males nulis pengantar. Jadi harusnya nggak pa-pa dong kalo Arini mengeluarkan pertanyaan itu out-of-nowhere. Arini maupun author sedang khawatir dengan kelangsungan hidup Arum. (Arum: Maksudnya??)
Arum menatap mata Arini. Lembut tanpa tatapan tercengok-cengoknya yang tadi. Yeah, di sini author membuat Arum sebagai wanita yang stoic, (Yay!! *girang sendiri*) jadi dia dengan segera dapat mengendalikan ekspresinya lagi. Apalagi dengan kitten eyes nya Arini, dia tidak tega melihat mata khawatir itu karena ekspresi anehnya barusan. Akhirnya dia berkata, “Aku ma Itsnan resmi putus pas Arini liat itu.”
Gantian Arini yang tercengok-cengok. “Emang kapan jadian?” lirihnya yang sedang merasa sangat bego karena tidak menyadari kalo selama ini hubungan Itsnan dan Arum bukan cuma gossip. Bahkan baru menyadarinya ketika gossip sudah kembali menjadi gossip.
- - - - -
Kita kembali lagi ke Arif, (Kayaknya ni author nge-fans beneran ma Arif… *ngelirik tahu pong* *dikasih deathglare* (Sejak kapan coba, seonggok tahu bisa kasih deathglare?) *gak jadi nge-fans sama siapapun*)
Dalam perjalanan menuju parkiran, suara seseorang yang memenggil namanya menghentikan langkahnya. Ketika menoleh, didapatinya seorang Mentari dengan sebuah plastik besar yang menggantung di tangannya. Masa iya Mentari mau titip laundry ke Arif?
“Ngapa?” tanyanya dengan innocent ketika Mentari sudah berhasil mendekatinya. Bukan ‘mendekatinya’, oke? Hn. I take it as a yes.
“Karena gue yang nyelesein koreksinya, lo yang balikin ma adek-adek kelas. Besok jam sembilan di lab kaya biasa.”
“Bukannya jadwalnya, …”
“Banyakan cingcong. Iya, jadwalnya Jumat. Tapi kalo lo kasihnya Jumat juga, mereka gak bisa belajar buat responsi. Pokoknya lo yang harus nganterin. Nggak mau tau!”
Arif terpaksa mengangguk mengiringi kepergian Mentari. Sekarang dia menyesal mengantarkan laporan-laporan itu ke Mentari tempo hari.
^^ skip time ^^
Arif menghempaskan dirinya di sofa kontrakannya begitu dia sampai di kontrakan sederhana itu. Rasanya sangat lelah dan ia ingin mengistirahatkan mata dan perasaannya sejenak. Sampai dia melihat sesosok mahluk yang sedang pundung di depan kulkas sambil menatap kosong pada sebuah wortel yang sedang dipegangnya. Pikirannya yang dari tadi tidak beres kembali menjadi tidak beres, Apakah itu hantu penggemar wortel?
Dengan langkah kaki bergetar dan perasaan yang aneh, Arif membawa plastik berisi laporan tadi mendekat pada mahluk aneh di depan kulkas—sebagai alat pukul seandainya hantu wortel itu adalah maling.
Langkahnya terhenti ketika manyadari siapa yang sekarang ada di hadapannya. Wawan.
“Wan, lo ngapa ngeliatin wortel kaya gitu?” Arif sudah mengendurkkan pegangannya pada sang plastik berisi laporan tadi.
Wawan nggak jawab. Masih ngeliatin wortel.
“Wan??”
Masih serius ngeliatin wortel.
“Wawan?”
Masih wortel.
“WAWAN!”
“Mana gue tau! Tadi kata author suruh liatin wortel. Katanya wortelnya seger. Enak banget dijadiin jus.”
Arif sweatdrop.

Arif: *marah-marah ke author* Kenapa lo bikin Wawan ngeliatin wortel kaya orang bego gitu?!
Wawan: *ngangguk-ngangguk gaje*
Author: *innocent* Ini kan fic gue! Suka-suka gue, dong!
Arif+Wawan: =.=’

Oke, kembali ke fic kesayangan kita. (?) Kita anggap saja mereka sudah bisa menyelesaikan masalah wortel karena kekuasaan mutlak author. Jadi sekarang mereka sudah kembali ke alam kewarasan mereka yang tadinya dirampas author.
“Jadi…, sekarang lo pacaran ma Itsnan?” author bingung juga kenapa mereka nggak pindah lokasi dari depan kulkas imut penuh buah-buahan itu—cuma Wawan aja yang sudah sembuh dari pundung nya.
“Nggak. Dia bilang dia straight. Kayanya gue udah kebanyakan baca fic yaoi jadi mikir kalo dia bakal nerima gue, (Itu sih author! Tapi nggak nyangka Wawan seorang fudanshi…)”
“Makanya kalo author punya kebiasaan aneh, lo jangan ikutan…” (Arif: Sumpah ni author pengen banget si eksis di fic nya sendiri! Gaje!! *ngusir-ngusir author*)
Arif memegang pundak Wawan, mencoba menghilangkan pengeruh buruk fic yaoi yang sering dibaca Wawan. (Oh, please de, kalian tu bikin fujoshi ngiler dan bilang kalo itu demi menghilangkan pengaruh fic yaoi? Then God is a girl! *nggak nyambung*) Wawan menengadahkan kepalanya. Menatap langung ke mata Arif yang sedang tak berkedip memandangnya. Ada tatapan yang tak bisa diartikan Wawan di situ. Pedih, sakit, dan… lega?
Entah hanya perasaan Wawan saja atau memang jarak kepala mereka yang semakin mendekat. Wawan bahkan mulai bisa merasakan deru nafas Arif yang memburu. Wawan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini salah. Tapi dia tidak bisa melawan karena tubuhnya tidak mau menghindari pri yang ada di hadapannya. Hatinya mungkin menolak pria yang ada di depannya. Tapi dia tak bisa mengingkari kalau tubuhnya memang membutuhkan sebuah pelarian atas penolakan yang diterimanya hari ini. Dia ingin meluapkannya pada seseorang.
Dan ketika bibir lembut (?) Arif menyentuh bibirnya, Wawan benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ciuman itu lembut dan tidak menuntut. Tidak. Arif memang tidak membutuhkan balasan apapun dari Wawan. Dia sudah tau hati Wawan tidak pernah ada untuknya. Biarlah. Biarlah saat ini dia menikmati kedamaian ini. Merasakan kalau Wawan tidak menolaknya samasekali.
Tanpa mereka sadari, seseorang melewati pose mesra mereka dan berlalu memasuki kamarnya sendiri di kontrakan itu. Author harap reader semua sudah tau siapa orang yang dimaksud. (Reader: Ya iyalah! Sinetron abiss!!)
- - - -
.
.
.
terimakasih buat yang udah baca sampe sini. hontou ni arigatou.
yep, ni fic cuma sampe sini dulu. niatnya si she bakal bikin pt3 nya juga. abis ceritanya masih nggak jelas gitu sii. sebenernya she juga pengen buat bikin fic yang konfliknya keren dan ruwet dan berbelit-belit. tapi apa daya. kapasitas otak she yang pas-pasan bikin she nggak bisa bikin fic yang terlalu ruwet. nggak bisa bikin plot, nggak bisa bikin storyline, nggak mau mikirin timeline. hah… she memang pemalas.
oiya, dalam fic ini, kalo authornya tiba-tiba muncul, itu bukan berarti she tiba-tiba muncul lho. ato paling nggak bukan sebagai she melainkan author gaje yang sudah mengobrak-abrik hidup para chara yang ada di fic ini. lagian mana mungkin wawan jadi penggila fic yaoi? nggak mungkin kan?? nggak tau artinya yaoi? aah, internet kan selalu bisa memberi kita informasi apapun. jadi yang penasaran dengan istilah-istilah di fic ini, silakan temui mbah google.
mbah google: *deathglare* nambah-nambahin kerajaan gue aja lo!
she: *kitten eyes no jutsu*
nee, sampai jumpa chap depan… (kalo author nggak kehabisan ide si…)