disclaimer: i do not own the chara and do not make money of this fic.
warning: it's sho-ai alias boys love. gak suka gak usah baca. gak peduli udah sampe sini. kalo takut bakal tersinggung, segera tekan tombol back di pojok kiri atas ato langsung minggat aja dari halaman ini. jadi, i'v told you!!
a/n:
jadi ini adalah lanjutan daripada fic she yang kemaren..
sebenernya she udah pengen banget buat bikin fanfic beneran yang menggunakan tokoh idola beneran. she pengen bizzy d jadian lagi ma av meskipun cuma dalam fic. she pengen bikin tomo (of 30stm) jadi cakep lagi. she pengen asistennya jared rambutnya berubah jadi biru. she pengen bikin fic bertemakan no smoking yang mengkambinghitamkan doojoon n yoseob (of b2st). tapi apa daya... ujian menghadang. dan ini persembahan menjelang ujian. selamat menjalankan ujian bagi diri saya sendiri. semoga she nggak gila setelah proses itu berakhir. maaf kalo ada yang salah-salah ketik. males ngedit.
- - - - -
“Itsnan,” Wawan menggenggam tangan ketua kelasnya itu tepat sebelum dia keluar dari kontrakan menuju kampus.
“Hari ini lo kan sama Arif. Ada apa?”
“Gue suka lo.”
“Ha???”
Mengiringi kecengokan ketua kelas di pintu, seorang lagi penghuni kontrakan itu memandang dua penghuni lainnya. Dengan matanya yang terluka. (Bayangin aja orang yang lo suka nembak orang laen di depan mata.)
“Nek seneng emang kudune ngomong wae…,” hanya itu yang dia ucapkan. Lebih kepada dirinya sendiri yang merasa sedang menjilat ludahnya sendiri. (Ludahnya udah keluar dari mulut, udah nggak mungkin ditarik lagi.)
Karena author bingung mau dikemanakan sosok Arif yang frustrasi terhadap dirinya sendiri itu, akhirnya Arif hanya melewati mereka berdua dengan innocent nya. Mengambil motor dan langsung memacunya ke kampus FMIPA tercinta. (?) Tanpa sedikitpun memandang kedua teman satu kontrakannya. Dia takut. (Arif: Sialan! Gue nggak takut! Harusnya gue hajar aja tuh Itsnan! Gue bukan pengecut! Author: *innocent*)
.
.
.
Title: Winning Super Ego pt 1
.
.
.
Wawan masih menggenggam tangan ketua kelasnya yang dengan suksesnya dibuat cengok olehnya. Itsnan juga masih mangap dengan hebohnya. Bukan dink, megap-megap karena bingung mau bilang apa. Jelas saja pernyataan aneh dari wawan bukan hal yang dia harapkan sebagai awal harinya.
“Nan..?” sapaan lembut (?) Wawan menyadarkan Itsnan dari kebengongannya.
“Apa yang barusan itu?” Itsnan berhasil juga mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
“Maukah lo jadi seme gue?”
“Apa?? Lo gila! Gue normal tau!” Itsnan yang sudah sadar langsung meninggalkan Wawan yang masih diam saja di situ. Berlalu ke kampus FMIPA tercinta. (Lagi.)
Wawan terdiam menyambut kesialannya. Bukan. Bukan naik motor sendiri ke kampus FMIPA tercinta yang bikin dia sakit kaya gini. Kalo cuma ke kampus sendirian dia bisa. Selalu bisa. Tapi ngeliatin Itsnan setelah ini yang dia nggak tau dia bakal sanggup ato nggak. Dia duduk di sofa ruang tamu yang ada di sampingnya. Berpikir tentang akan datangkah dia ke kampus FMIPA tercinta hari ini. Rasanya sakit kalo tau dia harus liat lagi gimana ekspresi Itsnan. Apapun ekspresi itu.
Damn, it hurts. Dia tidak menyangka dadanya akan begitu sesak hanya demi menerima penolakan dari Itsnan. Bukankah dia sudah mempersiapkan diri untuk ini? Gue udah siap. Sekali lagi Wawan mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
- - - - -
Di kampus FMIPA tercinta,
Arif tidak bisa konsen samasekali mendengarkan penjelasan dosen Psikologi Pendidikannya. (Oke, kita anggep kuliah itu dilaksanakan jam tujuh pagi.) Selain karena dosen itu nyebahi n njelehi, (Ini si kata author!) Arif tidak bisa menemukan sosok Wawan maupun Itsnan di kelas itu. Kemana mereka? Bukannya meskipun jadian mereka harusnya tetep dateng kuliah? Ato… Arif cepat-cepat menyingkirkan pikiran mesumnya dengan mengacak-acak rambutnya. Membuatnya berkesan seperti sarang ayam baru.
“Jadi Mas, teori siapa itu tadi?” ucapan dosen yang jelas tertuju padanya itu membuat Arif cengok. Memangnya sedari tadi apa yang dibicarakan dosen kasar itu? Arif tidak mampu mmenanggapi apapun karena memang dia tidak tau samasekali apa yang sedang dibahas. Bukan berarti kalau dia tau apa yang dibahas dia bakal bisa jawab, sih. (*ditendang Arif*)
“Piaget. Jadi Piaget lah yang mengungkapkan pembagian tahap berpikir idividu menjadi empat bagian. Yaitu …” (Author males buka buku dan takut kalo nulis info salah.)
Arif sudah kembali pada pikiran anehnya ketika dosen FIP kita tercinta (?) itu kembali membahas tentang Piaget yang sudah terkenal di kancah psikologi itu.
Di ujung kelas yang lain—tanpa disadari oleh Arif—seseorang juga sedang mempertanyakan keberadaan Itsnan.
- - - - -
Kita liat Itsnan sedang di mana, (Gak mungkin di kontrakan karena tadi kan author udah nulis dia pergi ke kampus FMIPA tercinta.)
Jadi di manakah sebenarnya keberadaan sang ketua kelas kesayangan (?) kita? Silakan pikir sendiri. Nggak dink, gak bakal selesai kalo nungguin kalian mikir. (*ditimpuk readers*)
Di depan gelanggang ormawa. Tepatnya di depan markas besar himaki. Sendirian duduk menelungkupkan wajahnya di antara tangannya. Dia tau memendam ini lebih lama akan membuatnya meledak dan gila. Tapi memangnya pada siapa dia bisa bercerita? Siapa yang bisa memaklumi kalau dia baru saja dilamar (Sebenernya cuma ditembak sih!) seorang sahabat baiknya. Tepatnya sahabat cowoknya. Orang-orang mungkin tidak akan melihatnya dengan aneh. Tapi bagaimana dengan Wawan? Entah kenapa pikiran bahwa Wawan akan menjadi buruk di mata semua orang membuatnya merasa takut. Tapi dia pikir, ini karena gue temennya, setiap temen juga pasti kaya gini. Tapi nggak setiap temen juga ‘ditembak’ sama temen cowoknya, kan??
Itsnan menenggelamkan wajahnya semakin dalam ketika merasa ada tangan yang membelai kepalanya. Begitu lembut dan hangat. Terasa sangat aman seolah dia sudah melupakan semua kegalauan yang melandanya beberapa menit yang lalu. Seolah dia tidak ingin belaian itu terhenti untuk selamanya sehingga dia bisa tetap dalam keadaan damai seperti ini. Tidak, dia tidak ingin mendongak untuk memastikan siapa yang sedang menenangkannya. Dia takut. Takut kalau ketenangan itu akan berakhir begitu dia tau siapa yang sedang membuatnya berada di surga. (Bakal beda arti kalo lagi baca fic rate M ni..)
“Nan…?” tangan itu berbicara memanggil namanya. (Ya nggak lah!) Memaksa Itsnan untuk mendongakkan kepalanya. Pipi chubby Arum menyapanya cerah. (Pipi juga nggak bisa nyapa orang!)
“Arum?” Itsnan mengucek matanya berpura-pura bangun tidur. Tidak ingin mengubah ekspresi cerah yang menenangkan hatinya itu.
“Tadi kenapa gak ikut kuliah? Dicariin anak-anak tau!” suara melengking Arum menyadarkan Itsnan lagi. Seharusnya hari ini dia mengadakan rapat untuk kunjungan ilmiah yang akan dilakukan oleh kelasnya. Dan dia samasekali lupa tentang itu sampai Arum mengatakan kalau dirinya dicari. Maklum saja, ketua kelas kita yang rajin kan jarang banget nggak masuk kelas. Lagian nggak sering juga kan dia ngalamin yang barusan dia alamin?
“Tadi aku ketiduran pas baru nyampe sini…” balasnya dengan innocent pura-pura lupa samasekali.
“Hari ini kan rapat buat kunjungan ilmiah. Anak-anak jadi pulang kan gara-gara kamu nggak ada.”
“Oke, ntar ada kuliah Manajemen Lab, kan? Kita rapat abis kuliah itu.”
“Siip. Jangan lupa bilangin anak-anak. Biar gak ada yang bolos. Aku meh ke tempatnya Arini ngerjain tugas Sosio.” (Tenang, tugas ini fiktif… Readers: Bukannya seluruh fic ini emang fiktif? Author: *baru nyadar* *ngangguk-ngangguk innocent*)
Itsnan melepas kepergian Arum dengan tatapan datar. Tidak ingin merusak suasana hatinya sendiri.
Ketika dilihatnya sekumpulan mahluk cowok dari kelasnya sedang berjalan ke arah food court, Itsnan hanya menatap mereka nanar. Mencoba mencari sesosok manusia yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Tapi dia tidak bisa menemukan Wawan. Apa anak itu juga bolos seperti dirinya? Apa anak itu juga sangat terganggu seperti dirinya? Apakah anak itu serius dengan apa yang dikatakannya tadi pagi? Dia sangat berharap hanya pikirannya saja yang menyatakan kalau anak itu sedang sangat terpuruk. (Wawan: Kenyataannya emang gitu! Heh, author, kenapa gue nggak muncul-muncul lagi? Udah gatel pengen curhat, tau!! Author: Terserah gue, dong! Kan gue yang bikin fic ini! XP *diacungin parang*)
Itsnan yang bingung dengan haruskah dirinya bergabung dengan teman-temannya itu akhirnya kembali menelungkupkan kepalanya dan benar-benar pergi ke alam mimpi. Tak mempedulikan sekitarnya yang sedang ramai dengan mahasiswa-mahasiswa FMIPA yang sedang ribut di bazaar buku yang diadakan di pelataran gelanggang ormawa FMIPA.
- - - - -
Oke, kita balik lagi ke Arif.
Arif yang bingung dengan keberadaan dua sahabatnya merasa tidak akan mampu lagi menerima pelajaran. Yeah, sekarang emang lagi kosong kuliah si setelah kuliah Psikologi Pendidikan yang tidak perlu kita sebut siapa nama dosennya. Tapi dia benar-benar tidak bisa membersihkan kepalanya dari pikiran kotornya. Apa iya mereka sedang melakukan ‘itu’? Pikiran over mesum Arif melayang kembali pada kejadian malam itu.
- flashback -
Arif kelaparan. Ya, dia tau makan tengah malam bisa membuat perut buncit. Tapi bukan itu yang dipikirkannya. Lagipula kalau perut sudah melolong, apa daya? Dia ingat masih ada persediaan apel di kulkas kontrakannya. Dia memang sangat menyukai apel. (Arif: Lo emang keterlaluan nge-fans sama Kyuubi!) (Note: Kyuubi itu rubah ekor sembilan di anime Naruto yang sejak author baca sebuah fanfic di suatu website jadi nge-fans banget ma tu mahluk yang versi manusia. Dan tu Kyuubi suka banget makan apel. Jadi… *ditimpuk karena kebanyakan bacot* *masih bayangin Kyuu-chan* Kyuubi: Nggak usah pake –chan!!! *author di-rasengan*) Akhirnya Arif memutuskan untuk mengambil apel itu. Pasti akan bisa mengganjal perutnya. Selain itu, karena apel adalah sejenis buah, pasti tidak akan membuat perut buncit. Lagian antioksidannya kan tinggi. Bisa mencegah munculnya keriput di wajah. (Ini bikin fanfic apa bulletin, si?)
Intinya, Arif keluar dari kamarnya dengan tujuan sang apel di dalam kulkas. (Kulkasnya ditaruh di dapur untuk memudahkan akses dari semua penduduk.) Ketika melewati kamar Wawan…,
“Ngh… Goblok! Jangan hh… keras nghhh… keras! Sa mhh… kit mmh… tau!” Arif tau benar itu suara Wawan.
“Jangan gerak-gerak! Jadi susah nih!” dan itu adalah suara Itsnan.
“Ngh… hhhh.. AAAAHHH~!”
*author gak berani nulis lagi* *nosebleed*
Arif: Heh! Ceritanya gak bakal nulis sendiri, tau!
Author: *ngelap idung* Abisnya… mereka…! *nunjuk kamar Wawan*
Arif: Itu kan urusan mereka! Urusan lo ngerampungin fic ini! *ngacungin golok*
Author: *merinding* I-i-iya de… *langsung nunduk di depan JeJe* (Note: JeJe itu nama lepii nya author)
Jadi begitulah. Arif terbengong-bengong bagaikan kambing congek di depan pintu kamar Wawan. (Arif: Gue nggak kaya kambing congek! Cuma kaya kambing hampir disembelih aja. Author+Reader: *sweatdrop*) Not even dare to knock. Di benar-benar shocked. Selama ini dia mengira kedekatan Wawan dan Itsnan hanya sekedar sahabat saja. Tidak lebih. Tapi erangan ini… apa? Kenapa? Dia baru saja bisa menerima kenyataan bahwa dia punya perasaan yang lain pada Wawan dan sekarang dia harus mendengarkan ini? Kami-sama, apa salahku? (Note: Kami-sama itu sebutan tuhan dalam bahasa Jepang.)
Tapi karena sebelum ini dia memang sudah sangat menyiapkan diri untuk ditolak oleh teman sekelasnya itu, sekarang dia mencoba untuk menenangkan diri. Nggak pa-pa. Gue udah siap. Gue udah sangat siap. Dari awal emang nggak pernah ada apapun. Jadi nggak salah kan kalo sekarang emang nggak ada apapun? Arif mencoba untuk menguatkan batinnya sendiri.
Dengan berat hati Arif meninggalkan pintu kamar itu. Nafsu makannya hilang seketika. Dia hanya berjalan gontai kembali menuju kamarnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut dan mencoba untuk tidur. Meski tak sedetikpun dari malam itu yang akhirnya dilaluinya di alam bawah sadar. Intinya, dia samasekali tidak bisa tidur.
Dan ketika keesokan harinya Arif melihat ada noda kemerahan di lekuk leher Wawan, rasa sakitnya benar-benar parah. Rasanya seperti ketika kau ingin mati tapi tidak ada satupun dewa kematian yang mau mengambil nyawamu. (Tu, mereka lagi sibuk syuting Bleach! *nunjuk-nunjuk tv*)
- end of flashback -
Tapi mungkin saja itu salah. Mungkin saja mereka sedang melakukan hal lain, kan? Arif mau tidak mau sangat berharap mereka memang tidak melakukan ‘itu’.
Setelah membiarkan angel dan devil dalam dirinya bertengkar hebat, devil berhasil merayu Arif untuk pulang saja. Meskipun dia nggak yakin dia akan tahan juga tinggal di kontrakan dengan dua sahabatnya yang dia nggak tau sekarang gimana hubungan mereka, setidaknya di kontrakan ada selimut yang selalu menjadi pelariannya setiap kali dia stuck dengan hidupnya.
- - - - -
Huffh, author sangat lelah dengan narasi-deskriptif!! Jadi, sekarang author akan membawa readers semua (Kaya banyak aja yang baca fict ini!) pergi ke kontrakan Arini yang di… (Sebut gak ya? Gak usah aja de. Dia kan cuma minta buat nampang, bukan buat dipromosiin. Arini: Lagian promosi apa, coba? *bingung*)
Setelah panitia pengerjaan tugas Sosio kelompok Arum dan Arini pulang dan teman kontrakan Arini yang masih kuliah, (Sebenernya author bingung aja mereka mau ngapain kalo masih di situ…) yep, mereka tinggal berdua. Kaget nggak? Harusnya si nggak.
“Arum, aku pengen nanya tapi kamu jangan marah, ya?” ucap Arini takut-takut tapi tetep pasang muka innocent.
“Apa?” Arum menoleh dan menatap mata Arini penuh tanya.
“Kemaren itu…, aku nggak sengaja liat Arum ciuman ma Pak Itsnan. Kalian jadian beneran?”
Arum tercengok-cengok sendiri dengan pertanyaan Arini. Dia tidak menyangka akan ada yang melihat adegan itu. Sebuah ciuman perpisahan yang menyakitkan.
“Rum…, marah, ya?” Arini khawatir karena Arum tak kunjung menjawab pertanyaannya. Apa dia terlalu langsung menanyakan itu? Tapi kan author lagi males nulis pengantar. Jadi harusnya nggak pa-pa dong kalo Arini mengeluarkan pertanyaan itu out-of-nowhere. Arini maupun author sedang khawatir dengan kelangsungan hidup Arum. (Arum: Maksudnya??)
Arum menatap mata Arini. Lembut tanpa tatapan tercengok-cengoknya yang tadi. Yeah, di sini author membuat Arum sebagai wanita yang stoic, (Yay!! *girang sendiri*) jadi dia dengan segera dapat mengendalikan ekspresinya lagi. Apalagi dengan kitten eyes nya Arini, dia tidak tega melihat mata khawatir itu karena ekspresi anehnya barusan. Akhirnya dia berkata, “Aku ma Itsnan resmi putus pas Arini liat itu.”
Gantian Arini yang tercengok-cengok. “Emang kapan jadian?” lirihnya yang sedang merasa sangat bego karena tidak menyadari kalo selama ini hubungan Itsnan dan Arum bukan cuma gossip. Bahkan baru menyadarinya ketika gossip sudah kembali menjadi gossip.
- - - - -
Kita kembali lagi ke Arif, (Kayaknya ni author nge-fans beneran ma Arif… *ngelirik tahu pong* *dikasih deathglare* (Sejak kapan coba, seonggok tahu bisa kasih deathglare?) *gak jadi nge-fans sama siapapun*)
Dalam perjalanan menuju parkiran, suara seseorang yang memenggil namanya menghentikan langkahnya. Ketika menoleh, didapatinya seorang Mentari dengan sebuah plastik besar yang menggantung di tangannya. Masa iya Mentari mau titip laundry ke Arif?
“Ngapa?” tanyanya dengan innocent ketika Mentari sudah berhasil mendekatinya. Bukan ‘mendekatinya’, oke? Hn. I take it as a yes.
“Karena gue yang nyelesein koreksinya, lo yang balikin ma adek-adek kelas. Besok jam sembilan di lab kaya biasa.”
“Bukannya jadwalnya, …”
“Banyakan cingcong. Iya, jadwalnya Jumat. Tapi kalo lo kasihnya Jumat juga, mereka gak bisa belajar buat responsi. Pokoknya lo yang harus nganterin. Nggak mau tau!”
Arif terpaksa mengangguk mengiringi kepergian Mentari. Sekarang dia menyesal mengantarkan laporan-laporan itu ke Mentari tempo hari.
^^ skip time ^^
Arif menghempaskan dirinya di sofa kontrakannya begitu dia sampai di kontrakan sederhana itu. Rasanya sangat lelah dan ia ingin mengistirahatkan mata dan perasaannya sejenak. Sampai dia melihat sesosok mahluk yang sedang pundung di depan kulkas sambil menatap kosong pada sebuah wortel yang sedang dipegangnya. Pikirannya yang dari tadi tidak beres kembali menjadi tidak beres, Apakah itu hantu penggemar wortel?
Dengan langkah kaki bergetar dan perasaan yang aneh, Arif membawa plastik berisi laporan tadi mendekat pada mahluk aneh di depan kulkas—sebagai alat pukul seandainya hantu wortel itu adalah maling.
Langkahnya terhenti ketika manyadari siapa yang sekarang ada di hadapannya. Wawan.
“Wan, lo ngapa ngeliatin wortel kaya gitu?” Arif sudah mengendurkkan pegangannya pada sang plastik berisi laporan tadi.
Wawan nggak jawab. Masih ngeliatin wortel.
“Wan??”
Masih serius ngeliatin wortel.
“Wawan?”
Masih wortel.
“WAWAN!”
“Mana gue tau! Tadi kata author suruh liatin wortel. Katanya wortelnya seger. Enak banget dijadiin jus.”
Arif sweatdrop.
Arif: *marah-marah ke author* Kenapa lo bikin Wawan ngeliatin wortel kaya orang bego gitu?!
Wawan: *ngangguk-ngangguk gaje*
Author: *innocent* Ini kan fic gue! Suka-suka gue, dong!
Arif+Wawan: =.=’
Oke, kembali ke fic kesayangan kita. (?) Kita anggap saja mereka sudah bisa menyelesaikan masalah wortel karena kekuasaan mutlak author. Jadi sekarang mereka sudah kembali ke alam kewarasan mereka yang tadinya dirampas author.
“Jadi…, sekarang lo pacaran ma Itsnan?” author bingung juga kenapa mereka nggak pindah lokasi dari depan kulkas imut penuh buah-buahan itu—cuma Wawan aja yang sudah sembuh dari pundung nya.
“Nggak. Dia bilang dia straight. Kayanya gue udah kebanyakan baca fic yaoi jadi mikir kalo dia bakal nerima gue, (Itu sih author! Tapi nggak nyangka Wawan seorang fudanshi…)”
“Makanya kalo author punya kebiasaan aneh, lo jangan ikutan…” (Arif: Sumpah ni author pengen banget si eksis di fic nya sendiri! Gaje!! *ngusir-ngusir author*)
Arif memegang pundak Wawan, mencoba menghilangkan pengeruh buruk fic yaoi yang sering dibaca Wawan. (Oh, please de, kalian tu bikin fujoshi ngiler dan bilang kalo itu demi menghilangkan pengaruh fic yaoi? Then God is a girl! *nggak nyambung*) Wawan menengadahkan kepalanya. Menatap langung ke mata Arif yang sedang tak berkedip memandangnya. Ada tatapan yang tak bisa diartikan Wawan di situ. Pedih, sakit, dan… lega?
Entah hanya perasaan Wawan saja atau memang jarak kepala mereka yang semakin mendekat. Wawan bahkan mulai bisa merasakan deru nafas Arif yang memburu. Wawan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini salah. Tapi dia tidak bisa melawan karena tubuhnya tidak mau menghindari pri yang ada di hadapannya. Hatinya mungkin menolak pria yang ada di depannya. Tapi dia tak bisa mengingkari kalau tubuhnya memang membutuhkan sebuah pelarian atas penolakan yang diterimanya hari ini. Dia ingin meluapkannya pada seseorang.
Dan ketika bibir lembut (?) Arif menyentuh bibirnya, Wawan benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ciuman itu lembut dan tidak menuntut. Tidak. Arif memang tidak membutuhkan balasan apapun dari Wawan. Dia sudah tau hati Wawan tidak pernah ada untuknya. Biarlah. Biarlah saat ini dia menikmati kedamaian ini. Merasakan kalau Wawan tidak menolaknya samasekali.
Tanpa mereka sadari, seseorang melewati pose mesra mereka dan berlalu memasuki kamarnya sendiri di kontrakan itu. Author harap reader semua sudah tau siapa orang yang dimaksud. (Reader: Ya iyalah! Sinetron abiss!!)
- - - -
.
.
.
terimakasih buat yang udah baca sampe sini. hontou ni arigatou.
yep, ni fic cuma sampe sini dulu. niatnya si she bakal bikin pt3 nya juga. abis ceritanya masih nggak jelas gitu sii. sebenernya she juga pengen buat bikin fic yang konfliknya keren dan ruwet dan berbelit-belit. tapi apa daya. kapasitas otak she yang pas-pasan bikin she nggak bisa bikin fic yang terlalu ruwet. nggak bisa bikin plot, nggak bisa bikin storyline, nggak mau mikirin timeline. hah… she memang pemalas.
oiya, dalam fic ini, kalo authornya tiba-tiba muncul, itu bukan berarti she tiba-tiba muncul lho. ato paling nggak bukan sebagai she melainkan author gaje yang sudah mengobrak-abrik hidup para chara yang ada di fic ini. lagian mana mungkin wawan jadi penggila fic yaoi? nggak mungkin kan?? nggak tau artinya yaoi? aah, internet kan selalu bisa memberi kita informasi apapun. jadi yang penasaran dengan istilah-istilah di fic ini, silakan temui mbah google.
mbah google: *deathglare* nambah-nambahin kerajaan gue aja lo!
she: *kitten eyes no jutsu*
nee, sampai jumpa chap depan… (kalo author nggak kehabisan ide si…)
a . a . au . au . author,,,
ReplyDeletenapa lo jd kaya doo joonie? Jg agak mirip ma yoseobie yg tiba-tiba nongol gt? Ato cm perasaan reader y? (*abis reader seorang b2uty, jd apapun pasti dikaitin ma anak2 b2st hehe. . *)
bwt story.a . . . .
Emmm . . .
Gmn y ? . . .
Susah ngejelasin.a . . .
Bingung . . .
Ap y? . . .
*author nimpuk reader, reader bls nimpuk jg, muncul pihak ketiga: kpn comment.a slse? Ak kn jg mo commen!*
comment berlanjut . . .
Bwt story.a . . .
Can't wait for the next part !
P.S bwt author.a, reader minta maaf karna udah nulis comment yg gaje ma panjang ni, maaf karna udah agak terpengaruh ma gaya tulisan author, maaf karna udah nimpukin author jg, author nggak benjol kn? The last but not the end, good job she!
Sampai ketemu d comment selanjutnya !
*sebenernya reader pengin nulis lg, tp reader udah pegel mijetin keypad, jd y. . .
Bwt yg kedua kali.a . . .Sampe ketemu lg !